Jenazah Seluruh Korban Ditemukan, Keluarga Korban Histeris

 Kapuas Hulu

im gabungan melakukan evakuasi korban kecelakaan perahu motor yang merenggut nyawa 12 penumpang di dermaga PT SJRE, Dusun Nanga Seberuang, Semitau, Kapuas Hulu

Kapuas Hulu,KRP.Com-Tangis histeris mewarnai proses evakuasi para korban tenggelamnya perahu motor di dermaga penyeberangan Belian Estate-dermaga PT SJRE Dusun Nanga Seberuang, Semitau, Kalimantan Barat, kemarin. Keluarga korban tak kuasa melihat jasad anggota keluarganya yang tewas dalam peristiwa nahas, Sabtu (19/1) malam itu. 

Salah seorang anggota keluarga bahkan harus dibopong oleh tiga rekannya yang lain. Ia menangis dan meronta sejadi-jadinya setelah mengetahui familinya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Tidak hanya keluarga korban. Para penyelamat pun mengaku sedih dan pilu melihat sejumlah korban yang rata-rata merupakan satu keluarga. 

Korban atas nama Veronika Nata misalnya. Ia ditemukan dalam posisi masih menggendong bayinya, Julio Waso (L) yang berusia enam bulan. “Jujur mas, kalau mendengar cerita kawan-kawan, saya merasa iba melihat kondisi korban. Ada seorang ibu yang ditemukan masih menggendong anaknya,” kata Irwan Setiyadi, anggota Sat Brimob Polda Kalbar.

Dalam pencarian itu, Irwan juga menemukan korban atas nama Aprilius Kanisius Lele (P), bocah usia tujuh tahun dalam kondisi mengambang di permukaan sungai. “Korban saya temukan mengambang dalam posisi tertelungkup,” katanya.

Insiden tenggelamnya perahu motor tersebut merenggut 13 nyawa dari total 24 penumpang. Satu di antaranya adalah Naila, bocah usia satu tahun tiga bulan yang ditemukan tewas pada saat kejadian. Sementara 12 penumpang lainnya sempat dinyatakan hilang. 

Operasi SAR pun dilakukan dengan menerjunkan setidaknya 127 personel dari Basarnas Pontianak, Kodim 1206/Pts, Polres Kapuas Hulu, TRC Pramuka, BNPB Kapuas Hulu, Tagana Kapuas  Hulu, Sat Brimob Sintang, dan masyarakat setempat. Tim medis dari Puskesmas Seberuang juga diturunkan.

Di hari pertama pencarian, operasi SAR gabungan yang dibagi menjadi tiga tim. Mereka melakukan penyisiran menggunakan perahu karet dan speedboat di permukaan Sungai Kapuas sejauh 15 kilometer dari titik awal.

Kemudian di hari kedua, Senin (21/1) pencarian kembali dilakukan. Tim berhasil menemukan dan mengevakuasi delapan korban dalam kondisi tak bernyawa. “Hari ini, Senin (21/1) hingga pukul 17. 00, delapan korban berhasil ditemukan dan dievakuasi,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Pontianak, Hery Marantika, Senin (21/1) petang.

Kedelapan korban tersebut yaitu Veronika Nata (P, 33 tahun), Julio Waso (L, 6 bulan), Alfonsio Halina (P, 41 tahun), Aprilius Kanisius Lele (P, 7 tahun), Stevanus Nalu (L, 40 tahun), Carolus HN Sury (L, 36 tahun), Frasensius Belu (L, 36 tahun), dan Asterius Marianus Lele (L, 30 tahun).

Di malam harinya, tim kembali melakukan penyisiran permukaan sungai. Namun, karena kondisi hujan deras dan minimnya jarak pandang, pencarian pun dihentikan sementara. Keesokan harinya, Selasa (22/1), upaya penyisiran diteruskan hingga lebih dari 15 kilometer.

Pencarian itu pun membuahkan hasil. Empat jenazah korban yang sebelumnya masih hilang berhasil ditemukan. Mereka adalah Marianus Bosko (L, 33 tahun) yang ditemukan sekitar 200 meter dari titik awal. Kemudian Maria Dolo Rosa Meo (P, 33 tahun) yang ditemukan di daerah Setunggul atau sekitar 15 kilometer dari lokasi awal. 

Sedangkan dua korban lainnya, Emanuel Tuga (L, 24 tahun) dan Yohana Bhoki (P, 28 tahun) ditemukan di Dusun Salat, Kecamatan Silat atau berada di radius 30 kilometer dari lokasi awal. Menurut Hery, sebagian besar para korban ditemukan berada di bawah radius 15 kilometer dari titik awal.  Namun, ada yang terbawa arus deras hingga lebih dari radius 15 kilometer.

“Jika melihat derasnya arus, kemungkinan korban hanyut hingga lebih dari radius 15 kilometer,” kata Hery, kemarin. Secara terpisah, On Scane Commander (OSC) Alfiansyah mengatakan, tidak ada kendala berarti yang dihadapi sepanjang operasi pencarian korban. Hanya kondisi cuaca yang dirasakan kurang bersahabat. “Secara keseluruhan tidak ada kendala. Cuma kemarin memang sempat terkendala cuaca,” katanya.

“Alhamdulillah di hari ketiga ini seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi. Oleh karena itu, operasi SAR ditutup,” sambungnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun Pontianak Post di lapangan, perahu motor nahas yang ditumpangi para korban mengalami kebocoran pada lambung perahu. Kondisi itu diperparah lagi dengan muatan yang berlebih sehingga kapal tenggelam.

“Perahu bocor. Ada rekan kami yang sempat menimba air di perahu. Malahan ada bekas tambalan dari tanah,” kata Fransiskus, rekan korban. “Saya pun heran, kenapa motoris masih memaksakan diri dengan kondisi seperti itu,” lanjutnya.

Para korban merupakan karyawan perusahaan perkebunan sawit KHTE yang berencana ingin menghadiri undangan pernikahan di Sejiram. Namun nahas, sebelum tiba di dermaga PT SJRE, perahu motor tersebut karam.

“Kami semua warga Flores, Nusa Tenggara Timur. Keluarga kami di kampung sudah mengetahui kejadian ini. Rencananya korban akan dimakamkan di sini,” timpal Ignasius. Ignasius dan Fransiskus adalah yang beruntung. Mereka dan keluarganya terhindar dari insiden itu. “Kami berangkat lebih awal. Waktu itu perahu membawa tiga sepeda motor,” katanya.

Trip kedua, perahu motor kembali membawa tiga sepeda motor. Trip ketiga membawa enam sepeda motor. “Dan trip keempat, perahu membawa sembilan motor dan 24 orang. Kapal kemudian tenggelam,” katanya. 

Sementara itu, Polres Kapuas Hulu tengah mendalami kasus tenggelamnya perahu motor yang merenggut 13 nyawa tersebut. “Saat ini sedang fokus memeriksa saksi-saksi. Terlebih saksi ahli,” kata Kasat Reskrim Polres Kapuas Hulu, Iptu Siko Sesatria Putra Suma kepada Pontianak Post, kemarin. Menurutnya, saat ini motoris atas nama Muhammad Gunawan sudah diamankan di Polres Kapuas Hulu untuk diproses lebih lanjut.(alif)

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan