Kegiatan Pendampingan Dian Tama Berakhir

 Kapuas Hulu

Workshop akhir program pelestarian kawasan melalui agroforestri dan pengelolaan HHBK sebagai alternatif pendapatan masyarakat di koridor Labian – Leboyan di Aula Bappeda Kapuas Hulu.

Kapuas Hulu,KRP.Com-Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kapuas Hulu Abang M. Nasir berharap agar kegiatan yang sudah diperoleh warga dari tim konsorsium Dian Tama bisa berlanjut. Harapan tersebut disampaikan dia saat berbicara pada Workshop Akhir Program Pelestarian Kawasan Melalui Agroforestri dan Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai Alternatif Pendapatan Masyarakat di koridor Labian – Leboyan, Kamis (24/5).

“Namun kami minta juga apa yang sudah dilakukan terus dipantau, kami dari pemerintah daerah, mari kita sama-sama membantu, khususnya desa-desa di lokasi pendampingan Kecamatan Batang Lupar,” kata Nasir dalam kegiatan yang berlangsung di Aula kantor Bappeda Kapuas Hulu. Nasir menyampaikan, dengan sejumlah program unggulan yang sudah dilaksanakan, pemerintah sangat terbantu. Dimisalkan dia dari GIZ yang sudah menyiapkan peralatan lengkap untuk melakukan pemetaan pada program tanah objek reforma agraria (TORA) yang masuk dalam kawasan hutan.

“Kemudian program penanaman kopi robusta, kalau kita lihat potensi sangat tinggi. Kemudian di sektor perekbunan karet. Selain itu, pelatihan pembuatan kompos, selain itu pengerajin tenun dari bahan pewarna alami. Dengan adanya kawasan strategis pariwisata nasional hasil kerajinan masyaakat ini akan membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat,” papar Nasir.

Nasir menyambut baik atas setiap kegiatan yang selalu dievaluasi, karena akan menjadi acuan dalam menentukan pekerjaan apa yang akan dilaksanakan di masa akan datang. Kemudian, dia menambahkan, bagaimana dalam upaya meningkatkannya. Makanya, disarankan dia, harus dituangkan dalam sebuah catatan bersama, sehingga setiap program pendampingan di daerah berhasil dengan baik.

Terhitung 1 Juni 2018 mendatang, sejumlah kegiatan program pendampingan kerja sama Yayasan Dian Tama dengan Tropical Forest Conservation Action (TFCA) yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu berakhir. Koordinator TFCA Kalimantan Nanadang Suryatman mengatakan Dian Tama telah melakukan pendampingan di koridor Labian – Leboyan yang meliputi tiga desa wilayah Kecamatan Batang Lupar selama 3 tahun.

“Sekitar 23 kegiatan sudah dilaksanakan. Itu akan berakhir 1 Juni 2018. Menurut catatan kami progresnya sudah 90 persen. Pembinaan Diantama cukup efektif, tidak berpindah dalam melakukan pendampingan kegiatan,” ujar Nandang.

Nandang mengatakan, program dan capaian hasil yang sudah dilakukan mereka diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi bagi Bappeda. Dengan demikian, harapan dia, bisa disinkronkan dengan program dinas instansi terkait di lingkungan OPD Kabupaten Kapuas Hulu. “Program memang sekitar 2 – 3 tahun, namun kelanjutannya yang penting,” harapnya.

Nandang menjelaskan, banyak kegiatan unggulan yang sudah dicapai, seperti bagaimana masyarakat desa melakukan pelatihan pemetaan, sekaligus peta lahan milik masing-masing maupun kelompok. “Peta ini bisa dijadikan bahan dari BPN untuk penerbitan sertifikat tanah. Jadi sangat membantu,” ucapnya.

Kemudian warga di tiga desa juga didampingi mereka, bagaimana melakukan penanaman pohon kopi jenis robusta. Pada tahun 2021, kata Nandang, kopi sudah berbuah dan sangat membantu perekonomian masyarakat.

“Terus kegiatan lain yang cukup menonjol adalah memproduksi karet lokal. Warga sudah diajarkan buat karet bokar, harganya bisa mencapai 12 ribu. Kemudian pelatihan membuat pupuk kompos,” kata Nandang.

Untuk itu ia berharap para kelompok masyarakat pendampingan Dian Tama tersebut bisa melanjutkan program secara mandiri. Sehingga, harapan dia, kegiatan yang sudah ada bisa terus berkembang untuk menjadi lapangan usaha masyarakat. (alif)

Author: 

Related Posts

Leave a Reply