Nasib Anak Perbatasan yang Sekolah di Malaysia

 Kapuas Hulu

Camat Puring Kencana, Herkulanus saat diwawancarai wartawan terkait anak-anak di kawasan perbatasan yang sekolah di Malaysia.

 

Kapuas Hulu,KRP.Com-Banyak anak-anak perbatasan di Kapuas Hulu memilih sekolah di Malaysia dengan alasan mutu pendidikan negeri seberang lebih baik, pendidikan di perbatasan minim serta jarak menuju negeri Malaysia lebih dekat. 

Namun sayangnya usai pendidikan di Malaysia, anak-anak perbatasan kesulitan mendapatkan pekerjaan didalam negeri usai menyelesaikan pendidikan diluar negeri. 

Peluang kerja bagi anak-anak perbatasan yang menempuh pendidikan di luar negeri khususnya Malaysia tampaknya perlu dipikirkan kembali oleh pemerintah Indonesia. Pasalnya anak-anak perbatasan yang banyak memilih sekolah diluar negeri tersebut menghadapi masalah baru yakni mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan usai menyelesaikan pendidikan di Malaysia. 

“Anak bangsa Indonesia yang belajar di Malaysia itu , mulai dari TK hingga SMA memang ada tamatan dari negeri seberang. Tetapi hasil pendidikan mereka (Ijazah) tidak diterima ketika kembali ke Indonesia saat akan bekerja. 

“Karena kita belum ada kerjasama antara Malaysia-Indonesia terkait anak kita yang ada ijazah lulusan dari Malaysia itu bisa diterima bekerja di dalam negeri,” kata Herkulanus Albinus Camat Puring Kencana, Selasa (7/5). 

Herkulanus mengakui banyak warganya yang lebih memilih sekolah di Malaysia karena soal pendidikan, di Malaysia itu benar-benar dibantu. “Tapi efek dari itu, ketika anak-anak kita menyelesaikan pendidikan disana itu, saat mereka ketika kembali kesini tidak bisa diterima bekerja oleh perusahaan karena menggunaan ijazah lulusan dari Malaysia,” katanya. 

Namun penolakan perusahaan terhadap jebolan dari Malaysia itu, bukanlah secara keseluruhan dari pihak perusahaan, mereka hanya mengantisipasi saja jangan sampai didikkan dari Malaysia itu lebih menonjol dibandingkan dengan didikan Indonesia sendiri.

 “Terus terang kalau dibandingkan kemampuan anak-anak yang sekolah di Malaysia dengan negeri kita ini, mereka ini lebih mampu. Bayangkan saja untuk keterampilan Bahasa Inggris saja, anak-anak yang sudah sekolah di Malaysia itu lebih hebat bicaranya ketimbang anak-anak kita disini,” ungkapnya. 

Dia pun sangat mengharapkan agar perusahaan maupun pemerintah Indonesia sendiri dapat menerima anak bangsa yang menyelesaikan pendidikannya di Malaysia bisa diterima bekerja didalam negeri. 

“Karena soal pendidikan ini, kita juga tidak bisa melarang masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Tentunya orang tua itu ingin anaknya mendapatkan pendidikan lebih baik,” ujarnya. 

Terhadap masalah ini, kata Herkulanus, pemerintah harus mencari solusinya agar anak-anak perbatasan hasil jebolan pendidikan di Malaysia itu mendapatkan hak yang sama dalam bekerja. 

“Jangan sampai mereka juga anak bangsa Indonesia yang sudah   punya oendidikan labelnya luar negeri tetapi di Indonesia kita tidak pakai. Padahal mereka mempunya kemampuan lebih dibanding jebolan pendidikan didalam negeri,” ungkapnya. 

Herkulanus pun menyarankan kepada pemerintah agar masyarakat di perbatasan tidak lagi menyekolahkan anaknya ke Malaysia, pemerintah harus mempersiapkan fasilitas pendidikan, SDM pendidikannya serta infrastruktur yang lebih baik. 

“Ini yang menjadi kelemahan kita, sehingga masyarakat memilih sekolah di Malaysia,” ujarnya. 

Ditambahkan Donatus Dudang Camat Empanang, untuk wilayahnya sendiri juga berbatasan dengan Malaysia. Namun untuk anak-anak perbatasan yang sekolah di Malaysia, dirinya belum mengetahui berapa jumlahnya. “Yang jelas ada juga anak-anak kami sekolah di Malaysia,” katanya. 

Menurut Dudang, anak-anak di perbatasan diwilayahnya sendiri lebih banyak memilih sekolah didalam negeri, seperti ada yang sekolah ke Kecamatan Badau, Semitau  dan lainnya. 

“Tapi tamatan SMA yang ada ditempat kami itu selesai sekolah hanya menjadi buruh harian diperusahaan sawit, bahkan ada yang sudah sarjana jadi buruh harian juga,” pungkasnya.(*)

Author: 

Related Posts

Leave a Reply