Guru Lastini Maafkan Pelaku

 Sanggau

kondisi guru lastini

Sanggau,KRP.com-Meski mengalami luka permanen di bagian wajah (hidung), kebesaran guru Lastini telah membuatnya memaafkan Su, orang tua murid yang telah menganiayanya hingga bersimbah darah. Dikediamannya, Lastini terlihat masih mengenakan perban di bagian hidung. Dia didampingi Kacabdikpora Meliau dan anggota Polsek Meliau serta kepala sekolah SDN 31 Meliau ketika disambangi media belum lama ini. Sejatinya, dia telah memaafkan pelaku yang tidak lain adalah orang tua dari muridnya. Namun, sebagai pembelajaran bagi orang tua lainnya proses hukum tetap berjalan. Dia juga berharap tidak ada guru lain yang menerima nasib sepertinya dikemudian hari.

Dia menceritakan, dia merasa tidak pernah menegur muridnya tersebut. Pada hari itu, datang tiba-tiba orang tua murid mencarinya. “Tiba-tiba datang dan manggil nama saya. Ada kawan saya yang dengar. Saya mendengar ada menyebut nama saya, kemudian saya menoleh ke belakang. Itu langsung (pelaku) memegang leher saya. Leher saya diginikan (seperti dicekik) terus saya dihantam, pok…pok…pok gitu,” ungkapnya.  “Saya waktu itu kan sedang lihat anak-anak sedang latihan. Ya ekstrakurikuler-lah begitu,” tambahnya.

Saat itu tidak ada yang melerai karena spontan terjadi. Setelah darah keluar, sembari menyebut nama Tuhan, dia bergegas lari ke dalam kantor mencari tisu atau kain untuk membersihkan darah yang mengalir di wajahnya. Sambil berjalan, guru Lastini kemudian bertemu pesuruh sekolah dan memintanya untuk mengantarkannya ke poliklinik terdekat.

 “Saya sambil menyebut nama Allah terus mencari sesuatu untuk mengusap darah yang masih mengalir. Lalu, ketemulah dengan pesuruh sekolah dan saya minta antar ke rumah sakit terdekat,” jelasnya. Bicara kemungkinan dendam, Guru Lastini mengungkapkan bahwa sekira 3 tahun lalu, anak laki-laki pelaku yang juga muridnya mengerjai kawannya dengan melumurkan telur busuk ketika di sekolah. Kawannya menangis saat itu, dirinya spontan memarahi si anak pelaku dengan kata-kata marah.

Menurutnya, selaku pendidik wajar jika dirinya memarahi dan memperingatkan anak didiknya yang sudah berbuat salah dan keterlaluan karena memang tugasnya sebagai pendidik untuk mendidik anak muridnya supaya berkelakuan baik.

 “Coba kamu digituin mau ndak, kata saya waktu itu. Saya memang marah dengan anak (pelaku) itu. Si anak kemudian pulang ke rumah. Nah dari situ, pelaku kemudian mendatangi saya dan mau mukul saya, sudah dekat sekali dengan muka saya, tetapi tidak jadi setelah saya bilang silahkan om pukul saya,” katanya mengenang.

Ketika itu, istri pelaku mendatangi sang suami dan memeluknya agar jangan berlaku emosi. Sejak itulah kemudian ada perubahan sikap dari orang tua murid tersebut.  “Mungkin dendam atau gimanalah saya tidak tahu. Memang hati saya sakit dengan perlakuan ini. Tetapi saya tidak dendam dan sudah memaafkan,” tegasnya. Dia berharap kejadian serupa tidak terjadi pada rekan kerja lainnya. Kasus ini, lanjutnya menjadi pembelajaran semua pihak untuk melihat suatu kejadian dengan lebih dewasa. (*)

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan