Antisipasi Zonasi, Bangun SMPN 09 Nenak Tembulan

 Sintang

Yustinus. Sekretaris Disdik Kab Sintang.

Sintang, KRP.Com

 “SMPN 09 Nenak Tembulan sudah selesai Desember ini, tentu untuk meresmikannya kita mohon Bupati, sebab peresmian seluruh pembangunan seperti di tahun-tahun sebelumnya dilakukan secara bersamaan”,

Tetapi kalau memang nanti mendesak, mungkin akan kita lakukan peresmian sebelum tahun ajaran baru, dan kita mengundang bupati, ujar Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Sintang Yustinus, saat ditemui media ini (6/12) di ruang kerjanya.

Yustinus menjelaskan, SMPN 09 Nenak Tembulan berdiri sudah sejak Th 2012 lalu, namun karena permasalahan tanah dan status, barulah tahun 2017/2018 ada penetapan status tanah dari pada sekolah itu, dan tahun 2019 ada turun anggaran pembangunannya dari pemerintah pusat.

Membangun SMP disana, alasannya karena kita melihat sekolah-sekolah (SD-red) pendukung terutama untuk wilayah Sungai Durian dan sekitarnya, termasuk daerah BTN dan sekitarnya itu luar biasa jumlahnya.

Sebelum SMP 09 ada, selama ini anak – anak SD dari daerah itu, yang menampungnya hanya SMPN 02 saja, termasuk SMP swasta, nah, melihat situasi itu kita ajukan ke pemerintah pusat agar dibangun SMP disana karena SMPN 2 dan swasta tadi sudah lebih kapasitasnya, jelasnya.

Bahkan  sudah menampung lebih dari seribu siswa, sehingga perlu di bangun satu sekolah SMP disana, itu isi diskusikan kita ke pusat dan direalisasikan pusat, sambungnya.

Masih menurut Yustinus, dibangunnya SMP 09 Nenak Tembulan, jelas, berdasarkan jumlah SD pendukung diantaranya, SD Mambok, Tembulan dan lainnya, SMP tersebut dibangun lengkap dengan fasilitasnya, intinya sekolah itu memang kebutuhan dan masyarakat di sekitarnya –pun sangat menyambut baik, sangat merespon positif ketika di sosialisasikan, ungkapnya.

Di tahun 2020 lanjut Yustinus, untuk SMPN 09 Nenak Tembulan tidak ada lagi pembangunan sebab anggaran pembangunannya itu sudah termasuk fasilitas.

Jadi, tahun 2020 pemerintah membangun sekolah-sekolah di daerah-daerah yang lain terutama yang sekolah sekolah yang masih kekurangan ruangan kelas, yang perlu rehab rumah dinas dan lain-lain.

Tentunya, untuk membangun itu semua kita juga lihat kemampuan anggarannya yang diberikan pemerintah pusat, ujarnya.

Meski demikian, kita juga ada di bantu dari dana APBD untuk membantu penambahan ruang kelas, rumah dinas guru dan termasuk rehabilitas rumah dinas, katanya.

Terkait target pendirian SMP 09 sebagai antisipasi sistim zonasi, Yustinus optimis SMP 09 akan sukses dan berkembang sebab kedepan pihak Disdik Sintang akan memenuhi tenaga guru yang memadai atau sesuai kebutuhannya.

Hal itu dipastikan Yustinus setelah  memperhatikan SMP itu beroperasi sampai sekarang, animo dan respon masyarakat/SD pendukung cukup besar jumlahnya dan sambutannya.

Untuk sekedar diketahui pembaca, perlakuan zonasi bagi SMP baru dimulai tahun ajaran 2019/2020 kemarin,  terutama bagi SMP-SMP di Sintang kota, sedangkan sistem zonasi SMA sudah di lakukan sejak tahun 2017/2018.

Nah, tahun 2020 sistem zonasi SMP akan dilaksanakan di pusat kecamatan, sembari pemetaan masih dilakukan berdasarkan kesepakatan kepala sekolah MKKS nya, sehingga zonasi ini kemana-kemana kita atur bersama kepala sekolah.

Jadi jangan khawatir dengan sistim zonasi, tidak akan ada sekolah yang kosong, namun kita akui ada mengalami kekurangan siswa tetapi ada yang bertambah, ini wajib sebagai konsekuensi dari suatu sistim baru untuk kemajuan, jelas Yustinus.

Sistim zonasi menurut Yustinus juga bertujuan membuka pola pikir orang tua, siswa, masyarakat bahwa dengan sistem zonasi ini tidak ada lagi namanya sekolah-sekolah favorit, kadang kala masyarakat kita ini menganggap nengok di SMP 1 siswanya banyak di SMP 2 siswanya banyak wah itu sekolah unggulan, padahal tidak demikian.

Tidak ada seperti itu, sebenarnya kalau kita lihat dari mutu pendidikan output-input yang di peroleh siswa masuk kesekolah itu berapa rata-ratanya lalu waktu mereka keluar berapa rata-ratanya, jadi bukan lihat banyak siswanya.

Kalau di kota, siswa diterima dengan sistem seleksi dan nilai rata-rata tinggi-tinggi. Nah, misal nilai rata-ratanya 7 dikota, kalau di daerah pedalaman mungkin nilai rata-rata 4 pun mereka diterima, tapi pada akhir mereka lulus nantinya pada saat mereka masuk ke sekolah itu nilai rata-rata mereka rendah tapi pada saat mereka keluar dari sekolah itu nilai mereka dapat mencapai 6.

Lalu kita bertanya, mana yang berhasil, yang di daerah atau di kota, jadi yang kita lihat adalah input dan outputnya itu, papar Yustinus.

Jadi tujuan dari sisitim zonasi salah satunya adalah, membuat agar semua sekolah  sama unggulan, maka tergantung penyelenggara pendidikan itu, termasuk juga kompetensi kualitas guru dan juga dukungan orang tua, maka orang tua dan masyarakat itu perlu saling mendukung, pintanya.

Terkait kuota guru di Kab Sintang, menurut Yustinus, kebutuhan guru melihat rasio yang ada terutama yang PNS, dengan di tambah guru kontrak kalau di kota  barangkali cukup.

Tapi kalau kita masuk ke kecamatan ke daerah pedalaman tenaga guru kita masih kurang, kita kekurangan sekitar  2. 000 an guru, apalagi tahun 2019 ini, guru yang pensiun 207 SD dan SMP saja, belum yang meninggal sekitar 200 san.

Sementara pengangkatan PNS sejak tahun 2019 ini, hanya 81 orang dan itu artinya tetap minus, ungkapnya.

Memang kita akan mencoba pengangkatan guru kontrak dan lainnya, tujuannya supaya tidak ada penumpukan dan lainnya di satu sekolah, kalau mereka menganggap penumpukan di kota dan lainnya itu salah.

Kalau menumpuk di kota jam mengajar mereka itu pasti kelebihan, tetapi jam mengajar mereka cukup kok, karena jam mengajar wajib 24-36 jam kita analisa mereka mengajar 30  paling banyak maksimal masih ada 26 jam yang harus di penuhi sebenarnya, mereka cukup bukan kelebihan, jelasnya. (Lia/Js)

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan