Bupati Panen Perdana Sawah Leboi Mekar

 Sintang

Kegiatan Panen Sawah Kelompok Tani Leboi Mekkar.

Sintang,KRP.Com     

Bupati Sintang dr. H. Jarot Winarno, Selasa (2/4) lalu, menghadiri sekaligus melakukan panen perdana lahan sawah kelompok tani Leboi Mekar di Desa Pengkadan Sungai Rupa, seluas 40 hektar.

Padi sawah yang merupakan varietas padi hitam, padi merah, padi ciherang dan padi local, berkisar pada musim tanam Noverber 2018 lalu.

Usai lakukan panen bersama kelompok tani Leboi, bupati dan rombongan selanjutnya adakan dialog pertanian.

Mengawali dialog pertanian Desa itu, Jarot menyampaikan beberapa hal kendala pertanian di Kabupaten Sintang diantaranya, kurang luasnya lahan sawah yang di olah, kurang sering di tanam.

Padahal lanjut Jarot, Kabupaten Sintang seluas Provinsi Jawa Barat namun lahan padi sawah cuma 7700 hektar.

Ironisnya, sudalah kurang luas, juga belum semuanya bisa panen 2 sampai 3 kali setahun.

Petani Sintang hanya rata-rata panen cuma satu kali setahun, dan produksinya hanya 2 sampai 3 ton saja perhektarnya, kalau di Jawa sekali panen bisa 5 sampai 6 ton per hektar, kata Jarot.

Namun Jarot ungkapkan, hasil panen padi kelompok tani Leboi Mekar ini sangat berkualitas terlebih terlebih padi beras hitam banyak di cari orang, sama halnya padi beras merah laku di jual di pasaran.

Untuk itu saran bupati Jarot, varietas padi baik itu beras hitam bisa menjadi unggulan kelompok tani Leboi Mekar dan Ia minta coba di packing yang bagus, dikasi merk Leboi Mekar, kaki Bukit Natai.

Ia juga sebut bahwa beras Tawangsari sudah lakukan hal itu dan kini beras Tawangsari kaki Bukit Kujau laku seharga Rp12.000/ bungkusan nya 10 kg.

Sementara itu Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Dedai Subarman menjelaskan, luas lahan sawah milik kelompok Leboi Mekar ini seluas 40 hektar dengan varietas padi seperti padi hitam, padi merah, padi ciherang dan padi local, hasil keseluruhan panenya nanti diperkirakan sekitar 16 ton.

Kalau padi ciherang bantuan dari dinas pertanian, kalau yang Padi Hitam itu memang lokal dari petaninya itu sudah turun temurun.

Cuma lanjut Subarman, mengenai harga padi maupun beras produksi petani ini nanti belum tahu berapa akan di jual masih akan di diskusikan sesuai saran bupati, katanya.

Selain itu juga tambah Subarman yang menjadi kendala dalam pertanian disini sama seperti di tempat lain adanya ancaman hama tikus maupun walang sangit. “tahun ini Alhamdulillah untuk tikus sudah kurang cuma Walang Sangit kita bekerjasama dengan UPT maka hasilnya seperti ini, tutupnya. (Humas/Js)

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan