Merakyatnya Pemimpin Tidak Diukur Dengan Mabok di Depan Rakyat, Itu Kebodohan!!!

 Sintang

H. Jarot Winarno saat kampanye, mabuk miras.

Sintang,KRP.Com

Masih ingat dan masih segar di memori kita, tentang apa yang ditegaskan Jarot dalam debat publik di Pilkada Sintang.

Tulisan ini mengupas cacatnya perilaku dan pola pikir dari seorang Jarot Winarno, calon bupati yang dielu-elukan karena katanya dekat dengan masyarakat.

Semalam, Jarot menelan ludahnya sendiri. Pertanyaan dari moderator tentang kasus narkoba dan miras yang merusak masa depan anak di Sintang, di mana ditemukan kasus narkoba dan miras yang tinggi di Sintang.

Jarot menjawab dengan tegas. dirinya berusaha menekan kasus narkoba dan miras di Sintang. Jawaban ini sungguh menggelitik dan membuat kita tertawa geli.

Beberapa waktu lalu, video Jarot mabok di depan masyarakat ketika dirinya berkampanye. video ini tersebar luas di sosial media, dikonsumsi oleh semua kalangan.

Bagi orang yang suka minum mabok ini hal biasa. Ya, karena mereka berpikir sederhana, Jika bupati saja bersikap seperti ini, mengapa kita tidak? bahkan ini akan membuat mereka semakin menjadi-jadi.

Belum lagi anak-anak yang beranjak dewasa dan sedang mencari jati diri. Baik buruknya masa depan anak ditentukan oleh lingkungan sosial, keluarga dan sikap seorang pemimpin yang bisa menjadi panutan dan referensi untuk anak-anak.

Secara tidak langsung, Jarot sudah merusak masa depan anak-anak, merusak masyarakat banyak. Ini ada kaitannya dengan sikap seorang Jarot yang bermiras ria di depan publik.

Tetapi hal ini ada porsinya, ada situasi dan tempatnya, orang-orang yang hadir dalam proses dan ritual adat juga diberi dengan porsi masing-masing, secukupnya. Bukan dalam urusan hura-hura, memamerkannya di depan publik.

Jarot tidak mendidik anak-anak dengan pola hidup yang jauh dari alkohol. Tetapi mencederai masa depan anak-anak. Karena Jarot adalah seorang pemimpin, publik figur yang harusnya memberi pendidikan yang baik bagi masyarakat.

Ada kelucuan dan kekeliruan ketika video ini beredar. Timses dan pendukung Jarot dengan enteng menganggap hal ini sederhana, ALASAN MERAKYAT!!!.

Bukan ini yang dimaksud dengan merakyat!!!. Memang berbicara dari segi adat istiadat orang Dayak, arak atau susu kalimantan tidak terpisahkan, melebur menjadi satu dalam urusan adat.

Dan ketika berbicara mengenai pemimpin yang merakyat, kita tidak boleh serampangan dan gegabah. Merakyat itu hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan, mencari solusi terbaik untuk mengatasi penderitaan rakyat. Berkerja serius, rajin dan tekun dalam mengurai persoalan masyarakat dan memberi contoh yang baik kepada masyarakat.

Jangan kita terlalu sempit menilai pemimpin yang merakyat. Jika hanya karena duduk berjam-jam dengan masyarakat lalu kita dengan enteng mengganggap pemimpin yang merakyat!!

Waktu menjadi pemimpin atau bupati itu hanya 5 tahun. Maka 5 tahun itu bupati bekerja keras untuk rakyat. Bukan berleha-leha. Membuang waktu percuma, nongkrong yang tidak ada solusinya untuk rakyat. Giliran Pilkada minta tambah lagi dengan alasan cita-cita yang belum sampai.. Ini pembodohan!! (Ys/Js)

 

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan