Terima Kasih Ansai, Anda Menelanjangi Jarot di Hadapan Umat Katolik

 Sintang

Sintang,KRP.Com

Video Ansai yang menyinggung perasaan umat Katolik Pandan dan mengatakan para romo gila, telah membuka mata hati Gereja Katolik di Pilkada Sintang.

Ansai dipasang Jarot sebagai juru kampanye. Jarot tahu betul bagaimana memecah belah persatuan masyarakat Dayak lewat mulut Ansai, terkuhusus untuk memecah suara basis Katolik.

Ansai yang Katolik dan dipasang sebagai Jurkam oleh Jarot tentu berkeinginan untuk menarik simpati umat Katolik.

Karena dalam hukum gereja Katolik, para pastor atau para imam dilarang berpolitik praktis.

Ini keuntungan bagi Jarot  karena dinilai gereja Katolik akan netral dalam menentukan sikap dan pilihan.

Sehingga, dengan memasang Ansai yang keseringan gagal di caleg ini, Jarot dengan mudah mendapat dukungan dari masayarakat Katolik.

Tapi sayang, masyarakat Katolik yang awalnya netral dalam menentukan pilihan kini marah kepada Ansai yang merupakan Jurkam Jarot.

Pernyataan Ansai sangat melukai hati masyarakat Katolik. Jarot adalah Ansai, dan Ansai adalah Jarot, mereka adalah sumbu dan minyak dalam kasus ini.

Bagi orang Katolik, Pilkada adalah sebuah konsep pembaharuan janji, jalan perenungan, refleksi kehidupan yang sangat kompleks.

Bagi orang Katolik, memilih pemimpin sama dengan memikul salib hidup, karena ketika pemimpin itu dipilih, mereka memiliki sebuah keterikatan moral, sama-sama berusaha untuk keluar dari belenggu hidup, ketertinggalan dan keterasingan.

Dan bagi orang Katolik, pemimpin itu adalah oase kehidupan dan kebijaksanaan.

Jalan pembaharuan dan keselamatan bagi rakyat yang lemah. Orang Katolik sangat dewasa dalam menentukan pilihan, mereka mampu membedakan, yang mana pemimpin gereja dan mana pemimpin rakyat. Tanpa membedakan suku, agama dan ras.

Maka ketika ada pemilu, orang Katolik sangat selektif memilih pemimpin, dengan ketetapan pemimpin tersebut menjalankan amanahnya sesuai ajaran iman dan moral Katolik. pemimpin yang hadir di tengah kemelut masyarakat mewartakan perdaiaman dan cinta kasih, membawa rakyat keluar dari kesusahan.

Tapi dalam konteks Pilkada Sintang saat ini, Jarot telah menyimpan duri dalam diri masyarakat Katolik, lewat mulut Ansai.

Ansai adalah provokator, beliau didesain oleh Jarot. Ansai seperti Yudas, ia dijual oleh Jarot untuk menantang umat Katolik.

Dalam kotbah provokatifnya, Ansai menyebut Gereja Katolik Pandan lupa diri, karena Jarot telah memberi 2 M untuk pembangunan Gereja. Uang ini adalah uang rakyat. Biarkan umat katolik Pandan yang mempertanggungjawabkannya sebagaimanana mestinya.

Lalu kenapa Jarot marah karena tidak diundang waktu peresmian, dengan alasan yang sangat tidak logis, gereja Katolik Pandan harus diresmikan oleh Jarot dan itu menunggu Jarot jadi bupati.

Apa hubungannya peresmian gereja dan menunggu Jarot jadi bupati? Tidak ada aturan dalam konsep berbangsa dan bernegara yang mengatur hal ini.

Seingat kita, peresmian gereja Katolik Pandan diresmikan oleh Penjabat Bupati Sementara, Florentinus Anom. Ini sudah mewakili Pemda Sintang. Jadi Ansai dan Jarot tidak punya wewenang untuk melarang dan mengatur peresmian gereja Katolik Pandan.

Tapi dalam kasus ini, ada hal serius yang perlu direnungkan. Jarot telah melukai perasaan umat Katolik. melalui mulut Ansai yang disiapkan Jarot.

Mereka tidak menunjukan sikap kebijaksanaan seorang pemimpin. Jangan salahkan jika umat Katolik tidak memilih Jarot di Pilkada Sintang. Karena Jarot bukanlah gambaran kebijaksanaan pemimpin.

Mari berdemokrasi yang sehat. (Ys/Js)

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan