Debat Cabup-Cawabup Sintang, Jarot dan Askiman, Jawabannya Berantakan

 Sintang

Suasana Debat Cawabup Sintang.

Sintang, KRP.Com

Debat cabup cawabup Sintang (1/12) lalu, banyak kalangan menilai jawaban – jawaban Cabup paslon 1 (H. Jarot Winarno) dan Cabup paslon 2 (Askiman) berantakan.

Kedua Cabup nampak gerogi menjawab pertanyaan, baik oleh pertanyaan penelis apalagi pertanyaan paslon 3, sebagai petahana mestinya mereka lebih siap.

Demikian penilaian Asman Ridwan (55) salah satu dosen di salah satu perguruan tinggi di Pontianak, ketika diajak media ini (2/12) bedah debat cabup Sintang.

Asman pada kesempatan itu, hanya membedah poin  tertentu saja yang dianggabnya rancuh dan berantakan.

Ia mencontohkan ketika paslon 3 menanyakan kepada paslon 1 mengenai kasus korupsi, narkoba,  paslon 1 menjawab tidak ada korupsi dibuktikan dengan berhasilnya Sintang raih WTP.

Menurut Asman, ada tidaknya korupsi di dalam pemerintahan daerah, idak ada kaitannya dengan WTP.

Kemudian soal naHal itu terjadi mungkin dikarenakan ketidaksipan kedua Cabup mengantisipasi pertanyaan lawan, khususnya pertanyaan paslon 3.

rkoba, paslon 1 membuka boroknya sendiri, kenapa selama 5 tahun tidak ada pencegahan dan pembinaan, justru menyerang penegak hukum yang tidak menjatuhkan hukuman berat bagi pengedar.

Lalu, ketika paslon 3 menanyakan kepada paslon 1 dan 2 mengenai masih tingginya angka kematian anak dan ibu, stanting dan kemiskinan, lima tahun lalu, paslon 1 dan 2 menjawab tidak seragam, padahal  mereka pejabatnya ketika itu (Bupti dan Wakil).

Paslon 1 menjawabya selalu melibatkan masyarakat untuk mengatasi persoalan itu, lalu apa tugasnya sebagai bupati, tanya Asman.

Sama halnya dengan jawaban paslon 2, hanya menyebut Sintang kurang tenaga medis dan pentingnya pelatihan bagi eks narkoba, paslon 1 dan 2 sama mengakui, persoalan itu terjadi akibat kemiskinan yang masih tinggi di Sintang.

Lalu, ketika giliran paslon 1 bertanya program paslon 3 diantaranya 1.000 lanting bertentangan dengan program ODF, paslon 3 menjawab jangan cabup H Jarot Winarno beranggapan buang hajat sembarangan disana.

Cabup Yohanes menurut Asman, cukup cerdas menjelaskan bahwa 1.000 lanting adalah solusi pemberdayaan bibir sungai untuk destinasi wisata.

Lanting disana akan menjadi tujuan wisata kuliner khas daerah, tempat istrahat dan sumber ekonomi, Yohanes pastikan tidak ada pencemaran sungai.

Atas 

penjelasan paslon 3 tentang 1.000 lanting, tampak jelas dari bahasa tubuh paslon 1 kalah argumen.

Yang lebih miris dari paslon 1 dan 2 nilai Asman adalah, tidak diberikannya porsi cukup kepada wakil masing –masing bicara,

Sementara paslon 3, posrsi bicara nyaris sama dan saling melengkapi, jawaban sesuai dengan maksud pertanyaan yang dihadapi,

Ditambah saat akhir debat, paslon 1 dan 2 buru-buru turun panggung padahal masih wajib diakhiri lagu Padamu Negeri.

Mereka berdua naik kembali setelah disuruh naik oleh moderator, ini pertanda berikutnya paslon 1 dan 2 gerogi hadapi paslon 3, ini hasil bedah saya, ujar Asman. (Js)

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan