Wabup Sintang Hadiri Gawai Dayak

 Sintang

Wakil Bupati Sintang, Drs. Askiman,MM menghadiri acara gawai dayak di Desa Pakak Kecamatan Kayan Hilir.

Sintang,KRP.Com-Wakil Bupati (Wabup) Sintang, Drs. Askiman,MM menghadiri acara gawai dayak di Desa Pakak Kecamatan Kayan Hilir, Minggu (01/07/2018). 

Wabup tiba di sana, menjelang sore dengan armada mobil double garden, perjalanan ke Desa Pakak cukup sulit karena jalan rusak.

Meski ruas jalan poros ke desa itu rusak, Wabup akhirnya nyampe juga dengan bantuan sejumlah alat berat perusahaan.

Rombongan Wabup disambut dengan tarian adat masyarakat setempat, anak dara dengan berpakaian adat.

Setelah penyambutan memotong ompong di gerbang, lalu menuju balai pertemuan dusun. Bunyi gemerincing manik dan gerunung (kerincingan) pada pakaian adat yang dikenakan sejumlah besar warga disertai tabuhan gong yang bertalu-talu mengiringi perjalanan rombongan tersebut. 

Di balai dusun, Wakil Bupati Sintang didaulat oleh pemuka adat untuk membuka tempayan tuak pemali.

Kemudian minum tuak gawai dari mangkuk di dalam Petung atau yang juga dikenal dengan Pekejang.

Prosesi minum tuak gawai di iringi dengan lantunan lagu hikayat kuno, bekana oleh beberapa tua-tua kampung. 

Acara dilanjutkan dengan tinjauan pada bilik benih ‘semengat padi’. Bilik ini berupa rak kayu yang ditutup dengan kain tenun. Di rak-rak tersebut ditaruh cupai –sejenis wadah yang dianyam dari rotan- berisi benih-benih yang dimiliki masyarakat.

Benih-benih itu sudah ditaruh sejak sehari sebelumnya dan didoakan menurut tradisi kaharingan yang berlaku di masyarakat Dayak Subsuku Desa Pakak.

Untuk meminta berkat dari leluhur pada musim tanam selanjutnya.

 Pada kesempatan ini, Wakil Bupati menyempatkan diri berfoto di depan salah satu lumbung padi tua milik warga.

Menurut Wabup, bangunan ini sudah mulai jarang ditemui di kampung-kampung. Mengakhiri kunjungannya, Wabup melakukan dialog bersama masyarakat Pakak.

Wabup menyebut, “kita harus melestarikan semua yang kita miliki ini, sebagai Urang Dayak ini tradisi kita warisan dari nenek moyang kita,” ujar Askiman. “

Saya berharap akan ada rumah betang adat dibangun di Pakak agar segala hal-hal yang bersifat budaya ini bisa disimpan di sana, bisa dilihat oleh anak cucu dan orang-orang yang berkunjung ke Pakak,” tambahnya. 

“kami melakukan beberapa kegiatan pada gawai ini, ada acara ‘ngumpan pulang gana’, ada ‘ngamik semengat padi’ juga hiburan rakyat berupa organ tunggal,” ungkap Becak, selaku ketua pelaksana gawai adat di Desa Pakak tahun 2018.

 “kami juga menerapkan beberapa sanksi adat terkait pelanggaran terhadap keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat selama kegiatan gawai,” tutupnya. (Humas/Js)

Author: 

Related Posts

Leave a Reply