Bongkar Kelemahan Pemerintah 2015-2019 Syamsudin Jagad : “Masuk tahun ke 3 sudah program pencitraan”

 Uncategorized

Syamsudin Jagad.

Sintang, KRP.Com

Tokoh masyarakat asal Ketungau, Syamsudin Jagad, bongkar kelemahan pemerintah Sintang 2015 – 2019 yang mengakibatkan masyarakat menderita.

Menderita akibat kelemahan dan ketidakseriusan pengelolaan pemerintahan mulai dari, pengelolaan keuangan daerah, perencanaan pembangunan hingga penentuan pembangunan skala prioritas. 

Janji saat kampanye 2015, mau bangun ini dan itu, realisasinya nol besar hingga jabatan selesai 2019, ada-pun yang sempat dikerjakan sifatnya masih memulai, belum beri manfaat bagi masyarakat.

Penilaian saya ini dapat saya pertanggungjawabkan, saya tidak asal omong,  saya merasakan sendiri apa yang dibuat pemerintah daerah ini 5 tahun lalu, jalur Ketungau khususnya, ungkap Syamsudin.

Pria yang pernah mengenyam anggota DPRD daerah itu dari Dapil Ketungau, lebih jauh mengungkapkan bahwa pemerintah 2015 – 2019 –pun memasuki tahun ke 3, sudah pencitraan untuk 2 periode, sehingga pembangunan makin tidak terarah sejak tahun 2017.

Syamsudin membongkar satu-satu penilaiannya yakni, pengelolaan keuangan, menurutnya pemerintah kala itu mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, sekolah dan kesehatan) kurang lebih dengan anggaran bantuan sosial (Bansos) macam-macam bentuknya,

Hibah juga demikian, macam-macam dibuat caranya agar anggarannya besar-besar, misalnya, bantuan keagamaan, Yayasan, bantuan beli alat kesenian, dan lain-lain.

Akibat dari pengalokasian anggaran semcam ini maka pembangunan fisik dibuat hanya bersifat fungsional saja, misalnya buat jalan tanah.

Ironisnya, anggaran bansos dan hibah-pun ada yang tidak utuh sampai kepada penerima, polanya macam – macam dibuat mencairkannya, beber Syamsudin.

Kaitan daerah ini (Sintang-red) sering dapat sertifikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kaitan pengelolaan keuangan daerah, Syamsudin hanya mengutif ucapan Mahfud MD saat masih Ketua MK, yang mengatakan bahwa hasil penilaian semacam itu ternyata boleh di nego.

Kemudain perencanaan pembangunan menurut Syamsudin, lebih parah lagi, Ia mengungkapkan terjadinya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) positif dua tahun ini, menggambarkan bahwa pemerintah lalu tidak cakap memanfaatkan anggaran.

Disatu sisi pemerintah butuh duit untuk membangun, tapi pemerintah 5 tahun lalu, justru tak mampu mengelola uang yang ada. ujar Suamsudin.

Saya mengomentari hal Silpa ini, tidak lebih dari pencitraan, supaya seolah-olah menyelamatkan uang negara, padahal karena kurang cakap perencanaan.

Takut jadi temuan, maka diputuskan jadi Silpa,  padahal kalau pemerintah cakap, Silpa itu boleh saja dipakai untuk membangun kebutuhan masyarakat yang mendesak, bongkar Syamsudin.

Syamsudin mencontohkan, jalan menuju ke pelabuhan Sungai Ringin, 5 tahun tidak pernah diurus, padahal banyak investor yang menginginkan pelabuhan itu segera beroperasi.

Kenapa pemerintah tidak menggunakan Silpa itu membangun jalan kesana, kan kalau pelabuhan beroperasi ada uang pemasukan daerah (PAD) tanya Syamsudin.

Terkait perencanaan ini saya heran, khususnya jalan, dimana-mana ruas jalan kabupaten tak ada yang selesai, kalau-pun ada yang selesai umurnya hanya 6 bulan saja, begitu alat kontraktor diangkut dari titik itu, tak lama sudah hancur kembali.

Anehnya, ketika jalan itu rusak yang selalu dikambing hitamkan adalah masyarakat, pemerintah bilang kenderaan masyarakat melebihi tonase lewat disana dan lain-lain,

Kontraktornya seolah bekerja sudah benar, tapi tahukah masyarakat kenapa kontraktor tidak ditegor pemerintah kala itu ? saya berani sebut karena kontraktor itu adalah pendukungnya saat kampanye 2015.

Inilah alasan saya kenapa tidak dukung Cabup Sintang petahana ujar Syamsudin seraya memuji keberanian Cabup orang muda, Yohanes Rumpak.

Meski blak-blakan dukung paslon 3, pada Pilkada Sintang tahun ini, Syamsudin tetap mengakui bahwa ada bayak yang dibangun pemerintah berhasil diluar yang dinilainya gagal, dan kegagalan pemerintah terdahulu itu, untuk mengatasinya ternyata ada saya baca di Visi-Misi Mandau Mengkilat,  akan diprioritaskan Yohanes Rumpak.  

Yohanes Rumpak – Syarifuddin menurutnya memahami persis keinginan masyarakat Sintang yaitu pertanian, jalan pertanian, obat-obatan pertanian, pupuk dan stabilisasi harga hasil pertanian itu.

Juga peternakan dan perkebunan, sektor – sektor prioritas ini kata Syamsudin, tak dihiraukan pemerintahan lalu.

Tapi Yohanes Rumpak justru menjadikannya skala prioritas karena masyarakat Sintang mayoritas menggelutinya.

Coba perhatikan, telor ayam saja kita harus datangkan dari Pontianak, pertanyaannya kenapa pemerintah lalu tidak pernah pikirkan bina pengusaha ayam petelor ?

Demikian juga hasil kebun seperti kelapa sawit, di banyak PMKS, harga pemerintah jauh lebih rendah dibawah swasta, itu juga sama artinya pemerintah tidak pernah perhatikan petani sawit, bebernya.

Maka itu saya mengajak kita semua tgl 9 Desember 2020, pilih paslon 3 Yohanes Rumpak – Syarifuddin sebab ditangan pasangan ini, keinginan kita masyarakat Sintang akan tercapai, ajaknya. (Js)

 

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan